Senin, 14 September 2015

AGEN ASURANSI YANG SEPERTI APA ?



Dalam kesempatan menulis di blog ini, saya sangat ingin berbagi kesulitan dan tantangan menjadi agen asuransi. Baik tantangan dari dalam diri sediri (ini yang terberat) maupun yang dari lingkungan dan faktor eksternal. Apapun yang saya sampaikan dan saya tulis disini , bisa jadi benar bisa jadi kurang tepat. Saling berbagi kesulitan dan pengalaman adalah hal yang sangat saya harapkan dari para pengunjang yang sangat saya hormati.

Blog ini saya tulis memang untuk saling berbagi tanpa harus merasa ada yang berkurang dari diri kita, justru dengan berbagi,  kita akan mendapatkan semakin banyak.
Ada hal yang sangat kita sadari bersama bahwa dalam  profesi agen asuransi, ada kesamaan seperti profesi yang lain. Ada yang gagal dan beralih ke profesi lain, ada yang jadi AM (agen melulu) seumur hidup, ada yang naik turun agen – manager unit –agen lagi, ada juga mencapai prestasi luar biasa. 

Kita sadari  bahwa menjadi agen asuransi adalah satu cara untuk berubah dari hidup yang biasa-biasa saja menjadi hidup yang sangat luar biasa. Tapi yang kemudian betul-betul mau menempuh perjalanan penuh onak - duri dan menghadapi segala risikonya, tidaklah sebanyak agen yang ikut fast start. 

Yang berhasil mencapai prestasi luar biasa mungkin kurang dari sepersepuluhnya, sebagian lagi menjadi agen tanggung, dengan prestasi yang setengah-setengah, dan selebihnya kembali ke zona aman dan nyaman menurut persepsinya masing-masing.
Bagaimakah kita menjadi bagian dari yang sepersepuluh tadi ?

MEMUTUSKAN UNTUK MENJADI AGEN ASURANSI

Bukan perkara mudah untuk merubah pola hidup kantoran, yang biasa kerja administratif, untuk menjadi seorang pemasar, apalagi pemasar produk asuransi.


Pergulatan panjang mesti dilalui, hampir setahun lulus ujian AAJI, tapi masih belum bisa juga untuk meyakini profesi ini. Belajar banyak sudah, baca banyak buku tentang asuransi sudah, paham tentang asuransi sudah. Tapi memang mengubah keyakinan dan 'habit' adalah pekerjaan sulit, paling sulit dari yang pernah dijalani selama ini.

Comfort Zone yang sudah 20 tahun dijalani membuat mental seperti katak dalam tempurung, ruang setengah lingkaran nan sempit dianggap tempat paling aman dan nyaman. Tidak pernah sadar bahwa tempurung sudah mulai lapuk dan dunia luas menantang, siap melumat siapa saja yang tidak siap.

Hanya ada pilihan dua , tetap di "zona aman dan nyaman" yang sesungguhnya sangatlah tidak aman atau ........, sekalian bertarung di zona yang tidak aman dan tidak nyaman untuk selamat menuju ke tempat aman dan gemah ripah loh jinawi ?

Sama seperti para pejuang kemerdekaan dulu, pilih aman dan nyaman jadi orang Hindia Belanda atau angkat senjata dan berjuang mati-matian untuk jadi Indonesia Merdeka. Apa jadinya jika dulu para tetua kita lebih memilih untuk tetap menjadi Hindia Belanda ?

Anak-anak dan cucu-cucuku, akan  menjadi generasi yang seperti apakah mereka ? Mereka harus menjadi generasi yang kuat, yang mampu berkompetisi dan menjadi pemenang pada zamannya. Dan itu harus diperjuangkan mulai dari sekarang. Tanpa penundaan.